Select Page

GRUDO.NGAWIKAB.ID – Salah satu jajanan / panganan khas dari desa Grudo , Kecamatan ngawi Kabupaten Ngawi adalah Geti Kacang Wijen . Sebenarnya Geti Kacang Wijen memang sudah dikenal masyarakat luas dari berbagai daerah . Namun dari masing – masing produsen punya inovasi tersendiri terkait kuncian rasa yang menjadi ciri khas produsennya.

Salah satu produsen Geti adalah  Suyadi , warga Dusun Cupo Desa Grudo Kecamatan/Kabupaten Ngawi. Pada keseharianya usaha keluarga yang sudah dirintis  kurang lebih 70 tahun yang lalu itu  mampu memproduksi rata – rata 400 pack. Memang  belum begitu besar kapasitas produksinya seperti di daerah Semarang Maupun Jogja. Namun dengan usahanya Bu Suyadi mengakui sudah berkehidupan layak. Bahkan dengan usaha yang dirintisnya mampum menampung 5 orang kariawan dari tetangga sekitar.

Usaha pembuatan Geti sebenarnya sudah lama sekali. Bahkan sudah dirintis sama orang tua saya semenjak saya masih kecil. Dari dulu sampai sekarang cara membuatnya sama dan bahannya juga sama. Kalo di tempat lain sudah banyak yang memproduksi dengan jumlah besar dan peralatan yang sudah modern. Tapi saya tetap menggunkan alat tradisional biar rasanya tidak berubah”. Terang Suyadi.

Dalam proses pembuatanya diperlukan waktu cukup lama hingga sekitar sekitar 6 jam. Hal itu disebabkan perlunya kehati – hatian agar tidak terjadi kegagalan dalam memasak. Terlihat dari pembersihan bahan baku , sangrai, pencamburan bahan dengan metode sangrai  dilakukan dengan tehnik sederhana dengan alat yang masih tradisional. Namun hal itu justru yang membuat rasa dari Geti terasa alami.

Sedang bahan – bahan yang diperlukan dalam proses tersebut adalah wijen, Kacang Tanah serta Gula putih. Tentu babah – bahan tersebut bukan sesuatu yang sulit untuk didapatkan. Namun Suyadi lebih memilih pembelian secara besar mengingat harga per kilonya bisa lebih murah dan bisa langsung diantar. Dikatakan bila keperluan bahan baku dibeli dengan skala kecil bisa selisih sampai Rp. 500.000.00 per bulan.

” Untuk pemasaran produk saya biasa menggunakan jasa paket bila pesanan dari luar kota seperti Malang, Surabaya, Jakarta, maupun Bandung. Tapi kalo dekat biasa di ambil sendiri atau di antar “. Lanjut Suyadi yang usianya menginjak 73 tahun itu.

Suyadi sendiri sampai saat ini masih berkomitmen untuk tetap menggunakan tehnik tradisional guna menjaga  kwalitas dari hasil produksinya. ” Kalo untuk membeli alat yang modern sebenanya sanggup. Namun yang saya kawatirkan adalah masalah rasa yang puluhan tahun sudah dikenal masyarakat akan berubah karena cara pengolahan yang berbeda dengan alat yang sudah modern“. ( REPDO )

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0