Select Page

Catatan Perjalanan Reporter GRUDO.NGAWIKAB.ID

Gunung Merapi

Dalam perjalanan Gathering Ngawi News sebenarnya saya sudah sangat penasaran dengan Merapi. Terutama sosok seorang Mbah Marijan yang selalu menjadi topik utama dalam setiap perbincangan erupsi Gunung Merapi. Sosok seorang yang memiliki kasta tertinggi dari sejarah kelam erupsi merapi hingga geliat kejayaan ekonomi kerakyatan yang berbasis budaya kearifan lokal saat ini . bagi saya Mbah Marijan adalah figur Fenomenal, figur yang benar – benar memahami arti tanggung jawab dari sebuah amanah dengan segala resikonya.

Dari perjalan hotel ke tempat tujuan dengan kendaraan khusus untuk adventur begitu relax dan enjoi. Sepanjang jalan yang dilalui begitu berkesan. Terlihat pesona dari Kawasan Merapi masih terjaga baik dengan petilasan – petilasan erupsinya.  Di tambah  dengan Driver yang sekaligus merangkap guide yang sangat menguasai medan begitu ramah dan interaktif. Mereka rata – rata sangat profesional walaupun tidak memiliki pendidikan khusus sebagai seorang guide.

Area Banker

Dan sesampainya di petilasan Mbah Marijan terpampang tulisan “ Ajining Manungso iku Gumantung Ono Ing Tanggung Jawabe Marang Kewajibane”. Sebuah Pesan yang sederhana namun bila di maknai secara dalam akan sulit mememukan sosok yang patut untuk dijadikan sebagai contoh. Dan bagi saya Mbah Marijan adalah salah satu figur yang  mewakili dari kata – kata tersebut dengan benar – benar memegang teguh tanggung jawabnya sebagai seorang “ Argo Penewu “ sekaligus konsisten dengan kewajiban yang telah di amanahkan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Dari rata – rata pengunjung yang datang mungkin tidak pernah bertemu dengan sosok mbah Marijan, namun dorongan untuk berdoa maupun mendoakan Mbah Marijan begitu kuat. Dalam rencana 7 kali Al Fatihah yang ingin saya bacakan terhenti di pertengahan. Entah sudah yang ke berapa saya lupa. Tapi saya masih ingat bahwa doa saya terhenti karena terbayang sosok Mbah Marijan di detik – detik terahir dalam liputan salah satu televisi nasional.

Area Batu Alien

Ketika reporter menanyakan kira – kira kapan Merapi meletus, mbah Marijan hanya terdiam dan terus menatap puncak merapi. Terlihat kesedihan diraut wajahnya . Seolah sudah tahu yang akan terjadi dan pasrah dengan yang akan di takdirkan. Tak lama kemudian dengan senyum yang tidak biasa mbah marijan meninggalkan reporter dan masuk ke rumah.

Mungkin tidak hanya saya, rekan lain dalam gathering kali inipun saya kira juga merasakan hal yang sama. Sebuah perasaan haru, sedih sekaligus bangga dengan dedikasi Seorang Mbah Marijan. Seorang suri tauladan yang tetap menjaga amanah sekaligus tuntutan kewajiban seorang abdi keraton Jogjakarta sebagai “ Argo Penewu “. Dan akhirnya Mbah Marijan lebih memilih kehormatan sebagai penjaga amanah sekalipun harus ditebus dengan  nyawa.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0