Select Page
Mesin Produksi

GRUDO.NGAWIKAB.ID  – Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional ( HPN ), Dinas Komunikasi dan Informasi Pemerintah Kabupaten Ngawi mengadakan kegiatan Study Tehnis ke Jogjakarta. Dan sebagai referensi adalah “ Media Kedaulatan Rakyat “ yang kita ketahui bersama adalah perusahaan media yang berdiri di era kemerdekaan dan sebagai perusahaan pers tertua di indonesia.

Dari rangkaian acara yang diagendakan adalah pengenalan sarana produksi dan mekanisme offset. “ Seperti yang rekan – rekan lihat inilah alat untuk mencetak koran harian Kedaulatan Rakyat. Disini ada 3 mesin cetak yang di pakai dengan spesifikasi yang berbeda. Dan dari ketiganya juga memiliki kelebihan dan kekurangan masing masing “ . Terang wakil dari ketua bidang produksi Kedaulatan Rakyat

Nara Sumber

Sementara pada sesi tanya jawab, media Kedaulatan Rakyat di wakili oleh Joko Budiarto. “ Seperti kita ketahui bersama bahwa perusahaan pers teruama untuk media cetak memiliki persoalan yang sangat berat. Dan ini tidak hanya berlaku untuk Kedaulatan Rakyat saja, namun juga untuk media cetak lainnya dan itu tanpa terkecuali “.

“ Tentu ini menjadi sebuah tantangan tersendiri seiring dengan cepatnya kemajuan tehnologi informasi yang berbasis digital. Dan salah satu adaptasi yang dilakuakan Media Kedaulatan Rakyat adalah dengan membangun jaringan berita online yang kurang lebih kami lakukan  lima tahun  lalu. Dan itu tidak bisa tidak, karena sudah menjadi sebuah kewajiban untuk pemenuhan tuntutan pembaca “.

Area Produksi Offset

Lebih lanjut Joko Budiarto mengatakan bahwa dalam menjaga kode etik jurnalistik terus melalukan penerapan pemahaman untuk generasi – generasi baru di Lingkup internal. “ kita tahu bahwa pergeseran penulisan juga berkembang sangat cepat. Ini membuktikan bahwa perkembangan dunia jurnalistik berkembang di segala lini. Sehingga bagian redaksi juga harus membatasi kebebasan dalam penyajian berita agar tetap santun tanpa mengurangi babot dari berita “

“ Semisal ketika menarasikan sebuah kronologi dari peristiwa dalam bentuk berita,  kami memakai bahasa yang tidak menyinggung  perasaan pelaku. Namun tetap tidak menghilangkan rangkaian peristiwanya dalam alur berita. Dan  inilah salah satu dari komitmen dalam menyeimbangkan dengan budaya kearifan lokal “. Pungkasnya. ( REPDO )

Share and Enjoy !

0Shares
0 0