Select Page
Perwakilan Perpusnas, Propinsi dan Nara sumber

GRUDO.NGAWIKAB.ID – Dalam rangka meningkatkan pemahaman perpustakaan berbasis inklusi sosial, Pemerintah Kabupaten Ngawi mengirim perwakilan dari 6 desa untuk mengikuti bimtek di Hotel Crown Princes Surabaya 22-26 April 2019. Dari ke enam desa yang mendapat kehormatan adalah Grudo, Watualang, Karanggupito, Kedungprahu, Jambangan dan Ngawi Purba.

Sementara untuk Desa Grudo mewakilkan dua orang pengurus Perpustakaan Desa dalam kegiatan tersebut. “ Perpustakaan Desa memang perlu inovasi. Tidak hanya sekedar menumbuhkan minat baca pada masyarakat saja, namun sekarang sudah mengarah pada program edukasi untuk umum. Terlebih bila melihat dari minat baca masyarakat yang sudah bergeser dari buku ke bacaan elektronik, jelas perpustakaan juga harus menyiapkan buku digital.”Terang Kades Grudo Triono ST.

Peserta Bimtek

Kegiatan yang di selenggarakan Perpustakaan Nasional tersebut dihadiri oleh Kepala Bidang Pengkajian dan Pemasyarakatan Minat Baca Perpusnas, Perwakilan Perpustakaan Propinsi, Perwakilan Perpustakaan Daerah dan Pengurus Perpusdes. Sedang dari propisi mewakilkan 4 orang , dari kabupaten 4 orang dan dari desa masing – masing mewakilkan 2 orang masing.

Perputakaan Nasional melalui Kepala Bidang Pengkajian dan Pemasyarakatan Minat Baca Nanik Suryani menekankan pentingnya memahami perpustakaan melalui Bimtek kali ini. “ Kita harapkan dengan adanya kegiatan kali ini akan menambah wawasan untuk pengelolaan perpustakaan baik di tingkat propinsi, Kabupaten maupun desa.”

Dari rangkaian kegiatan yang sudah tersusun dari tanggal 22 – 26 April 2019  tersebut dimulai pada Senin pukul 13.00 WIB dengan Bimbingan Teknis yang berthemakan Strategi Pengembangan Perpustakaan Dan TIK Untuk Layanan Perpustakaan Berbasis Inklusi. Hal itu mengacu pada uraian – uraian yang telah disampaikan beberapa waktu lalu pada pertemuan yang berthemakan sama di Hotel Red Top Jakarta.

Sedangkan Kepala Perpustakaan Desa Grudo Arys Purwadi yang turut dalam bimtek memahami pentingnya kegiatan tersebut. “ Pepustakaan bukan lagi dikhususkan untuk memencari reverensi ilmu. Namun pada saat ini harus menjadi sarana untuk mencari solusi dari berbagai persoalan. Dari persoalan sosial, budaya, pendidikan, ITE hingga religi. Jadi perpustakaan sudah saatnya menjelma sebagai edukasi centre.”  ( REPDO )

Share and Enjoy !

0Shares
0 0