Select Page
Bilik suara era perjuangan kemerdekaan

GRUDO.NGAWIKAB.ID – Sejarah panjang berdirinya Desa Grudo diwarnai dengan cerita – cerita unik. Dari cerita sistem pemilihan Kepala Desa sampai budaya masyarakat era 1900 yang kental dengan nuansa anismisme maupun dinamisme. Bahkan di Didusun Ngrongi terselip sejarah kebudayaan Islam yang menjadi sentral dari sejarah masjid tertua di Kabupaten Ngawi dan perjuangan era Diponegoro.

Dari para pendahulu sebagai pelaku sejarah tidak banyak mewariskan arsip di Desa Grudo. Namun dari potongan – potongan cerita sesepuh yang pernah mendengar cerita pelaku sejarah masih dapat beberapa hal yang bisa di tulis. Salah satunya adalah Masjid Baitul Rohman yang ada di Dusun Ngronggi. Masjid yang berdiri di era perang Diponegoro dalam mengusir penjajah VOC ( Vereenidge Oostindische Compagnie ) ini konon menjadi masjid tertua di Kabupaten Ngawi.

Berikutnya adalah sejarah yang mencatat sistem pemilihan Kepala Desa dengan sistem pemilihan langsung yang unik yaitu memasukkan potongan Lidi ( Biting ) ke dalam Batang Bambu  ( Bumbung ) pada era kemerdekaan. Namun lebih unik lagi adalah sistem pemilihan Kepala Desa diera 1900-an yang masih menempatkan figur dari tokoh masyarakan dengan nilai berlipat dalam memberikan suaranya. Dari nilai suara tokoh yang memiliki kuota khusus adalah gelar Haji, Kyai, pemangku jabatan dan sebagainya.

Gambar yang mewakili Calon kepala desa era orde baru

Dikisahkan mantan Carik ( Sekades ) Desa Grudo Suryo Anuri bahwa era 1900-an untuk pemilihan Kepala Desa sangat demokratis. Hal itu terlihat dari sistem dan pemahaman masyarakat yang selalu menjunjung tinggi perdamaian dan kedamaian  dalam pesta demokrasi terbesar di desa tersebut. Betapa tidak, suara yang masuk dan jumlah pendukung saja dapat di ketahui dengan barisan yang memanjang di depan Bumbung sebagai kotak suara.

“ Bumbung suara masing – masing calon Kepala Desa sudah di tentukan. Jadi pendukung tinggal memasukkan Biting. Kalau untuk pemilih yang memiliki gelar Haji akan dihitung 15 suara. Begitu juga untuk tokoh masyarakat yang lain akan dihitung lebih dari satu suara. Namun dari pemilih yang jelas kelihatan pendukungnya dari masing – masing kubu itu tidak ada persoalan paska pemilihan terkait beda pilihan.”

“ Pernah suatu saat ada pemilihan Kepala Desa yang berlangsung sampai diulang delapan kali. Selama periode 1-7 kali pemilihan, suara yang masuk draw. Dan baru pemilihan untuk  ke delapan ada selisih yang  bisa memastikan sebagai pemenang. Namun tiada persoalan dalam pelaksanaanya. Tentu ini bisa di jadikan sebagai contoh sistem demokrasi sederhana namun bernilai tinggi.” Kata Suryo Anuri. ( REPDO )

Share and Enjoy !

0Shares
0 0