Select Page

GRUDO.NGAWIKAB.ID. – Dalam bulan Ramadhan, membangunkan warga untuk melaksanakan ibadah sahur adalah hal yang biasa. Bahkan bisa dipastikan setiap daerah memiliki tradisi tersebut. Dari pelaksanaannyapun masing – masing daerah tidaklah berbeda  jauh antara satu dengan yang lain. Baik menggunakan speaker, kentongan maupun sarana lain yang bisa menimbulkan bunyi-bunyian.

Dan tradisi tersebut masih terjaga di Desa Grudo, kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi. Meskipun hampir setiap warga memiliki alarm, tradisi membangunkan warga untuk melaksanakan ibadah sahur selalu ada tiap bulan Ramadhan. Dari yang menggunakan speaker masjid, alat musik , Bedug, galon air hingga ember plastik.

Warga Desa Grudo menyebut kegiatan tersebut istilah Klothek’an. Entah kapan istilah itu mulai ada. Namun untuk kegiatan dengan memukul alat seadanya tersebut sudah ada sejak nusantara masih dalam penguasaan  kolonial VOC.

” Menurut saya Klothek’an perlu dilestarikan. Ini kan kegiatan positif untuk mengantisipasi agar masyarakat tidak bangun kesiangan. Selain bermanfaat bagi masyarakat, juga mandatangkan pahala untuk kita “. Terang Mahmud koordinator remaja Dusun Ngonggi.

Nama Klothek’an sendiri berasal dari bunyi-bunyian suara yang beragam dari berbagai alat yang di pukul. Baik menggunakan tangan maupun alat bantu seperti kayu.

Dari pelaksanaannya sendiri, Klothek’an dilakukan dengan menyusuri jalan – jalan maupun gang – gang di tempat pemukiman penduduk. Dan itu dimaksudkan untuk membuat suara riuh dengan maksud supaya warga akan  terjaga dari tidunya. Biasanya Klotekkan di mulai pukul 02.00 WIB dengan menabuh alat yang dibawa sambil melantunkan ” sahur …sahur … sahur… sahur….” ( REPDO )

Share and Enjoy !

0Shares
0 0