Select Page

GRUDO.NGAWIKAB.ID – Program Tranformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial terus di digalakkan Perpustakaan Nasional. Hal tersebut dimaksudkan agar perpustakaan tidak hanya sebatas menyediakan bahan bacaan, namun juga sebagai tempat mencari solusi dari berbagai persoalan yang ada di masyarakat.

Setelah melakukan beberapa kali bimtek, Perpusnas kembali mengadakan kegiatan sosialisasi yang bertujuan untuk mengembangkan program revitalisasi di daerah. Program kali ini masih menjadi program kelanjutan dari kegiatan – kegiatan sebelumnya. Namun untuk kegiatan kali ini lebih di tekankan pada sistem pengembangan program dengan lebih spesifik.

Peserta dari Kabupaten Ngawi

Pada Sosialisasi Pengembangan Program Revitalisasi Perpustakaan Daerah kali ini dilakukan di Surabaya Jawa Timur. Bertempat di Ibis Surabaya City Centre 11-12 Juli 2019, acara di hadiri Kepala Dinas Perpustakaan Propinsi Jawa timur, perwakilan Perpusnas, beberapa Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten di Jawa timur, Pegawai Dinas Perpustakaan Kabupaten dan  pengurus Perpusdes.

Dalam sambutannya Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Propinsi Jawa timur Abdul Hamid mengatakan bahwa pentingnya minat membaca untuk kemajuan bangsa.” Membaca itu bagian dari kebutuhan. Dengan gemar membaca maka secara langsung mendukung dan berperan terhadap kemajuan bangsa.”

Peserta Kabupaten Ponorogo

“ Denmark merupakan negara dengan penduduk terbahagia di dunia. Salah satu faktor kebahagiaan warga denmark adalah minat baca yang mencapai 100 %. Jadi tidak heran bila Denmark memiliki warga yang tingkat kejujurannya tinggi. Tingkat korupsinya sangat rendah dan tata kelola pemerintahan yang baik.” Lanjutnya.

Sementara Kepala perpustakaan melalui Kepala Bidang Kemasyarakatan dan Minat Baca Nani Suryani mengatakan bahwa masyarakat harus mengubah mindsetnya terkait pandangan perpustakaan sebagai gudang buku. Hal tersebut berkaitan dengan gudang yang dalam pemahaman masyarakat adalah tempat yang kotor dan tidak tertata.

Mindset masyarakat terhadap perpustakaan harus dirubah. Jangan ada lagi masyarkat yang berasumsi bahwa perpustakaan adalah gudang dari buku – buku lama dan tidak terawat. Ubah mindset mereka bahwa perpustakaan adalah sumber ilmu yang terus berkembang dan tempat untuk mencari solusi.“ Terang Nani Suryani

Peserta Dari Kabupaten Blitar

Dibanding kegiatan yang dilaksanakan di Red Top Jakarta maupun Crown Prince Surabaya, Peserta kali ini lebih sedikit. Bila pada pelaksanaan di Crown Prince masing – masing desa menyertakan dua orang untuk peserta dari desa, kali ini hanya satu orang pengurus Perpusdes. Begitu pula dengan peserta dari Perpusda juga berkurang dengan  hanya menyertakan satu orang.

Dari Kabupaten yang hadir pada kali ini masih seperti kegiatan sebelumnya seperti Kabupaten Ngawi, Ponorogo dan Blitar. Dari ketiga kabupaten mengirimkan 14 pengurus Perpusdes Dengan rincian Ngawi 6 perwakilan Perpusdes, Ponorogo 5 Perpusdes dan Blitar 3 Perpusdes. Dan dari 14 Perpusdes yang hadir kali ini mewakili Jawa Timur sebagai pelaksana program Perpusnas dalam Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. ( REPDO )

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0