Select Page

GRUDO.NGAWIKAB.ID –  Tradisi Nyadran atau Bersih Desa menjadi kegiatan yang telah lama dilakukan masyarakat Desa Grudo Kecamatan Ngawi Kabupaten Ngawi. Tujuan dari pelaksanaan tradisi  Nyadran adalah sebagai perlambang wujud  rasa syukur atas rejeki yang telah diterima selama ini dan sebagai sarana menyampaikan doa keselamatan.

Tidak ada catatan sejarah pasti kapan tradisi nyadran dimulai. Namun jelas bahwa tradisi itu sebagai warisan nenek moyang dengan usia ratusan tahun. Bahkan dari cerita generasi ke generasi masyarakat Desa Grudo, tradisi Nyadran sudah ada sebelum penjajahan Kolonial VOC  ( Vereenigde Oostindische Compagnie )

Seni Cokek’an

Seperti Jum’at 30 Agustus 2019 bertempat di Dusun Mojorejo dan Dusun Grudo Desa Grudo dilangsungkan tradisi Nyadran. Pelaksanaan Nyadran kali ini masih seperti tahun sebelumnya dengan menggelar pentas seni lokal Ngawi.  Sedangkan seni yang di pentaskan tetap mengacu pada pakem Tradisi Nyadran yaitu Cokekan.

Acara yang dimulai pukul 13.00 WIB tersebut mendapat antusias dari warga desa. Ratusan masyarakat hadir dalam kegitaan yang menjadi agenda tahunan Desa Grudo tersebut. Bahkan puluhan orang bergantian dalam Beksan ( joget ) dengan lantunan iringan Gamelan Jawa. Dalam Beksan biasanya ditemani seorang Ledek ( Penari Sinden ) yang memberikan Sampur  ( Selendang ). 

Pada prosesi tradisi Nyadran di Desa Grudo biasa mengambil hari khusus. Hal itu sesuai dengan anjuran dari sesepuh pendahulu. Konon untuk menentukan hari pada tradisi Nyadran, sesepuh atau yang ditokohkan di desa melakukan tirakatan dengan berpuasa. Hal itu dilakukan sebagai sarana mendapat Wangsit ( bisikan Gaib ) untuk maksud tertentu.

Dari tirakat yang di lakukan tokoh desa akhirnya menetapkan Jum’at Paing sebagai hari pelaksanaan tradisi Nyadran. Sedang untuk bulan  pelaksanaan tidak ada acuan. Ketetapan yang dilaksanakan desa adalah prosesi Nyadran dilakukan tiap tahun. Sedang Desa Grudo menentukan jadwal tardisi Nyadran biasanya pada bulan Agustus yang berketepatan dengan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dalam melestarikan tradisi Nyadran, Desa Grudo selalu menitik beratkan pada pakem. Hal itu sebagai pondasi sejarah agar tidak boleh luntur dengan era modernisasi. Dari pakem yang selalu dikedepankan adalah tempat Nyadran, sedekah makanan, hari pelaksanaan dan seni Cokek’an.

“Tradisi Nyadran pada intinya adalah wujud syukur dan minta perlindungan kepada sang pencipta. Wujud syukur dengan bersedekah makanan dan memanjatkan doa agar mendapat keselamatan” Terang Triono ST Kades terpilih periode 2019-2025. ( REPDO)

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0