Select Page

GRUDO.NGAWIKAB.ID – Masa tanam lahan petanian utamanya untuk persawahan di Desa Grudo tidak mengenal musim. Hal itu disebabkan melimpahnya kandungan air dari dalam tanah. Dengan kemudahan ini, petani bebas menentukan musim tanam tanpa harus menunggu musim penghujan.

Pada dasarnya, petani yang mengelola lahan sawah lebih condong menanam padi. Selain mudah dalam pemasaran, menanam padi merupakan budaya yang sudah mengakar dilingkungan petani Desa Grudo.

Pada pelaksanaan penanaman padi, banyak varietas yang bisa menjadi pilihan para petani.  Pilihan tersebut biasanya akan menyesuaikan dengan kondisi alam persawahan dan kebutuhan pasar.

Dari hasil pemantauan di lapangan, petani Desa Grudo banyak mnggunakan benih Inpari 32. Benih  jenis ini merupakan Varietas Unggul Baru (VUB) hasil seleksi Ciherang/IRBB64 oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Varietas ini memiliki gabah dengan bentuk medium, dan warna kuning bersih, serta agak tahan terhadap kerebahan. 

Dari berbagai sumber diketahui bila benih yang dilepas Kementerian  Pertanian tahun 2013 ini memiliki rata-rata hasil mencapai 6.3 ton/ha gabah kering giling (GKG) dengan potensi hasil sebesar 8.42 ton/ha GKG. Varietas ini cocok ditanam di dataran rendah sampai dengan ketinggian 600 m dari permukaan laut (dpl).

Bila melihat hasil yang diperoleh setiap kali panen, bukan tidak mungkin padi jenis Inpari 32 akan bertahan lama menjadi pilihan petani di Desa Grudo. Selain cocok dengan kondisi alam, padi jenis ini sudah terbukti memiliki banyak keunggulan.

“Petani Desa Grudo rata – rata menggunakan benih Inpari 32. Padi jenis ini lebih cocok dengan kondisi sawah Desa Grudo. Selain lebig tahan hama, juga batangnya kuat.” Terang Tukiman Ketua kelompok tani Dusun Brangol

Share and Enjoy !

0Shares
0 0