Select Page

Seni& Budaya Desa Grudo

Nyadran adalah tradisi yang hampir menjadi bagian dari  kegiatan setiap desa yang ada di Kabupaten Ngawi. Tidak hanya syarat dengan budaya leluhur saja, namun nuansa yang kental dengan seni masih selalu menghiasai  setiap kegiatan yang menjadi agenda tahunan itu. Dari perpaduan doa minta keselamatan sampai wujud syukur atas limpahan nikmat yang telah di berikan tuhan Yang Maha Kuasa selalu tersaji didalamnya. Bahkan beberapa tahun terakhir ada kolaborasi yang menyajikan kegiatan Nyadran dengan seni modern demi menarik minat dan adaptasi dengan peradapan.

Seperti  halnya yang dilakukan Pemerintah Desa Grudo, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi. Nyadran menjadi agenda tahunan yang selalu memberi nuansa pembeda diantara program pemerintah Desa Grudo lainnya. Selain sebagai aset yang harus di jaga dan di lestarikan, budaya Nyadran selalu mendapat tempat khusus di sebagian penikmat seni dari warisan budaya Jawa. Tentu itu semua tidak lepas dari kegiatan yang selalu menyelipkan gamelan Jawa beserta penari sinden dengan istilah Tayuban.

Nyadran itu sudah menjadi tradisi dari nenek moyang. Selain wujud syukur atas limpahan rejeki yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa, juga sebagai sarana doa minta keselamatan. Dan satu sisi juga selalu menampilkan budaya  Musik Gamelan sebagai sarana mempertahankan sekaligus melestarikan warisan pendahulu. Sebagai generasi penikmat seni dan budaya kita akan terus mengagedakan Budaya Nyadran  di Dusun Mojorejo”. Terang Parngadi Kasun Mojorejo.

Sebagai desa yang peduli dengan warisan budaya, Grudo selalu aktif dalam melakukan kegiatan budaya nyadran. Dari beberapa dusun yang selalu konsisten menghadakan Nyadran antara lain Dusun Cupo, Dusun Grudo, Dusun Mojorejo, Dusun Brangol Dan Dusun Pojok yang kesemuanya di pusatkan di sendang. Hal itu bukan tanpa maksud, Sendang adalah tempat air atau sumber dari kehidupan yang selalu menjadi tumpuan hidup warga di masa yang lalu.

Terlepas seperti apa wujud dari budaya Nyadran, Kita memaknai dari sisi positifnya. Dalam acara Nyadran jelas ada doa yang intinya bersyukur atas limpahan risqi dan mohon perlindungan atas keselamatan Kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan mendasar pada itu tentu kegiatan Nyadran  harus di budayakan. Dan bila perlu di selingi dengan tausiah agar generasi yang akan datang tidak memaknai Nyadran sebagai budaya negatif ”. Terang Tiono, ST. Kades Desa Grudo  ( REPDO )