Select Page
Genderuwo, Hantu Mirip Kera Besar

Genderuwo, Hantu Mirip Kera Besar

Genderuwa (pengucapan Bahasa jawa: “Genderuwo“) adalah mitos Jawa tentang sejenis bangsa jin atau makhluk halus yang berwujud manusia mirip kera yang bertubuh besar dan kekar dengan warna kulit hitam kemerahan, tubuhnya ditutupi rambut lebat yang tumbuh di sekujur tubuh. Genderuwa dikenal paling banyak dalam masyarakat di Pulau Jawa. Orang Sunda menyebutnya “gandaruwo” dan orang Jawa umumnya menyebutnya “gendruwo

Dilansir dari berbagai sumber, habitat hunian kegemarannya adalah batu berair, bangunan tua, pohon besar yang teduh atau sudut-sudut yang lembap sepi dan gelap. Menurut mitos, pusat domisili makhluk ini dipercaya berada di daerah hutan seperti Hutan Jati Cagar Alam Danalaya, kecamatan Slogohimo, sekitar 60 km di sebelah timur Wonogiri, dan di wilayah Lemah Putih, Purwosari, Girimulyo di Kulon Progo, sekitar 60 km ke barat Yogyakarta.

Istilah genderuwa yang sebenarnya diduga berasal dari bahasa Kawi gandharwa yang berakar dari bahasa Sanskerta gandharvaGandharwa dalam kepercayaan Hindu dan Buddha (merupakan kepercayaan dominan di zaman kerajaan Hindu Buddha di nusantara) digambarkan sebagai makhluk berwujud manusia berjenis kelamin pria yang tinggal di kahyangan.

Mitos genderuwa sebagai makhluk astral sendiri diduga berakar dari mitos kuno Persia gandarewa. Dalam mitos Persia, gandarewa adalah siluman air Persia yang terus-menerus mencoba untuk memakan hal-hal baik yang tercipta dalam mitos penciptaan Persia dan akhirnya akan dikalahkan oleh pahlawan Keresaspa.

Genderuwa dipercaya dapat berkomunikasi dan melakukan kontak langsung dengan manusia. Berbagai legenda menyebutkan bahwa genderuwa dapat mengubah penampakan dirinya mengikuti wujud fisik seorang manusia untuk menggoda sesama manusia.

Genderuwa dipercaya sebagai sosok makhluk yang iseng dan cabul, karena kegemarannya menggoda manusia terutama kaum perempuan dan anak-anak. Genderuwa kadang senang menepuk pantat perempuan, mengelus tubuh perempuan ketika sedang tidur, bahkan sampai memindahkan pakaian dalam perempuan ke orang lain.

Kadang genderuwa muncul dalam wujud makhluk kecil berbulu yang bisa tumbuh membesar dalam sekejap, genderuwa juga gemar melempari rumah orang dengan batu kerikil di malam hari.Salah satu kegemaran genderuwa yang paling utama adalah menggoda istri-istri kesepian yang ditinggal suami atau para janda, bahkan kadang genderuwa bisa sampai melakukan hubungan seksual dengan mereka. Dipercaya bahwa benih daripada genderuwa dapat menyebabkan seorang wanita menjadi hamil dan memiliki keturunan dari genderuwa.

Menurut legenda, genderuwa memiliki kemampuan gendam untuk menarik wanita agar mau bersetubuh dengannya. Kemampuan hubungan seks genderuwa juga diyakini amat luar biasa, sehingga wanita-wanita korban pencabulannya sering kali merasakan puas dan nikmat yang luar biasa apabila berhubungan badan dengan genderuwa.

Namun biasanya wanita korban yang disetubuhi oleh genderuwa tidak akan sadar sedang bersetubuh dengan genderuwo karena genderuwo akan menyamar sebagai suami atau kekasih korban dalam melakukan hubungan seks. Disebutkan pula kalau genderuwa memiliki libido dan gairah seksual yang besar dan jauh di atas manusia, sehingga ia amat mudah terangsang melihat kemolekan perempuan dan membuatnya menjadi makhluk yang senang menggoda perempuan.

Ada legenda menyatakan genderuwa kadang senang bersemayam di dalam rahim perempuan. Perempuan yang rahimnya disemayami oleh genderuwa akan memiliki gairah seks yang tinggi dan tak mampu menahan gairahnya. Si perempuan akan senang melakukan hubungan intim. Apabila pasangan si perempuan tak mampu mengimbangi gairahnya, maka si perempuan takkan segan mencari pasangan lain. Hal ini terjadi karena gairah si wanita dikendalikan oleh genderuwa, apabila si wanita melakukan hubungan intim, maka si genderuwa yang bersemayam di rahimnya juga akan merasakan nikmat dari hubungan intim yang dilakukan wanita tersebut.

Dalam kepercayaan Jawa, tidak semua genderuwa bersifat jahat, ada pula genderuwa yang bersifat baik. Genderuwa yang bersifat baik ini dipercaya biasanya menampakkan wujudnya sebagai seorang kakek tua berjubah putih yang kelihatan amat berwibawa. Genderuwa yang baik tidak bersifat cabul seperti saudara sebangsanya yang bersifat jahat, genderuwa yang baik sering kali membantu manusia seperti menjaga tempat gaib atau rumah dari orang yang berniat tidak baik. Pernah juga terdengar bahwa genderuwa yang bersifat baik kadang-kadang membantu menyunat anak-anak dari keluarga tidak mampu yang saleh beribadah.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0
Perjalanan Karir Anom Suroto Sebagai Dalang

Perjalanan Karir Anom Suroto Sebagai Dalang

Grudo.ngawikab.id – Seni Wayang Purwa (Wayang Kulit) merupakan budaya masyarakat Jawa yang sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Bahkan, keberadaan wayang kulit sebagai seni yang berasal dari Indonesia sudah ditetapkan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) melalui UNESCO pada 7 Noverber 2013.

Dalam Wayang Purwa, dalang merupakan tokoh pemeran seluruh wayang dengan berbagai karakter. Seorang dalang dituntut mampu menguasai karakter suara, dialek sekaligus seni olah suara. Jadi, suksesnya seorang dalang juga dipengaruhi keseriusan dalam belajar dan dukungan bakat.

Salah satu dalang Wayang Kulit Purwa yang dikenal masyarakat adalah Anom Suroto. Ia mulai terkenal sebagai dalang  sekitar tahun 1975-an. Ia lahir di Juwiring, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Rabu Legi 11 Agustus 1948. Ilmu pedalangan dipelajarinya sejak umur 12 tahun dari ayahnya sendiri, Ki Sadiyun Harjadarsana. Selain itu secara langsung dan tak langsung ia banyak belajar dari Ki Nartasabdo dan beberapa dalang senior lainnya.

Selain itu, ia juga pernah belajar di Kursus Pedalangan yang diselenggarakan Himpunan Budaya Surakarta (HBS), belajar secara tidak langsung dari Pasinaon Dalang Mangkunegaran (PDMN), Pawiyatan Kraton Surakarta, bahkan pernah juga belajar di Habiranda, Yogyakarta. Saat belajar di Habiranda ia menggunakan nama samaran Margono.

Pada tahun 1968, Anom Suroto sudah tampil di RRI (Radio Republik Indonesia), setelah melalui seleksi ketat. Tahun 1978 ia diangkat sebagai abdi dalem Penewu Anon-anon dengan nama Mas Ngabehi Lebdocarito. Tahun 1995 ia memperolah Satya Lencana Kebudayaan RI dari Pemerintah RI.

Selain aktif mendalang, ia juga giat membina pedalangan dengan membimbing dalang-dalang yang lebih muda, baik dari daerahnya maupun dari daerah lain. Secara berkala, ia mengadakan semacam forum kritik pedalangan dalam bentuk  sarasehan dan pentas pedalangan di rumahnya Jl. Notodiningratan 100, Surakarta.

Acara itu diadakan setiap hari Rabu Legi, sesuai dengan hari kelahirannya, sehingga akhirnya dinamakan Rebo Legen. Acara Rebo Legen selain ajang silaturahmi para seniman pedalangan, acara itu juga digunakan secara positif oleh seniman dalang untuk saling bertukar pengalaman. Acara itu kini tetap berlanjut di kediamannya di Kebon Seni Timasan, Pajang, Sukoharjo. Di Kebon seni itu berdiri megah bangunan Joglo yang begitu megah dalam area kebon seluas 5000 M2.

Hingga akhir abad ke-20 ini, Anom Suroto adalah satu-satunya yang pernah mendalang di lima benua, antara lain di Amerika Serikat pada tahun 1991, dalam rangka pameran KIAS (Kebudayaan Indonesia di AS). Ia pernah juga mendalang di Jepang, Spanyol, Jerman Barat (waktu itu), Australia, dan banyak negara lainnya. Khusus untuk menambah wawasan pedalangan mengenai dewa-dewa, Dr. Soedjarwo, Ketua Umum Sena Wangi, pernah mengirim Ki Anom Suroto ke India, Nepal, Thailand, Mesir, dan Yunani.

Di sela kesibukannya mendalang Anom Suroto juga menciptakan beberapa gending Jawa, di antaranya Mas Sopir, Berseri, Satria Bhayangkara, ABRI Rakyat Trus Manunggal, Nyengkuyung pembangunan, Nandur ngunduh, Salisir dll. Dalang yang rata-rata pentas 10 kali tiap bulan ini, juga menciptakan sanggit lakon sendiri antara lain Semar mbangun Kahyangan, Anoman Maneges, Wahyu Tejamaya, Wahyu Kembar dll.

Bagi Anom Suroto tiada kebahagiaan yang paling tinggi kecuali bisa membuat senang penontonnya, menghibur rakyat banyak dan bisa melestarikan kesenian klasik.

Anom Suroto pernah mencoba merintis Koperasi Dalang ‘Amarta’ yang bergerak di bidang simpan pinjam dan penjualan alat perlengkapan pergelaran wayang. Selain itu, dalang yang telah menunaikan ibadah haji ini, menjadi pemrakarsa pendirian Yayasan Sesaji Dalang, yang salah satu tujuannya adalah membantu para seniman, khususnya yang berkaitan dengan pedalangan.

Dalam organisasi pedalangan, Anom Suroto menjabat sebagai Ketua III Pengurus Pusat PEPADI, untuk periode 1996 – 2001.

Pada tahun 1993, dalam Angket Wayang yang diselenggarakan dalam rangka Pekan Wayang Indonesia VI-1993, Anom Suroto terpilih sebagai dalang kesayangan.

Anom Suroto yang pernah mendapat anugerah nama Lebdocarito dari Keraton Surakarta, pada  1997 diangkat sebagai Bupati Sepuh dengan nama baru Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Lebdonagoro.

Karena punya banyak penggemar, tidak sedikit pergelaran Anom Suroto yang direkam dan kemudian  dijual dalam bentuk kaset hingga tampil di media YouTube.

Sumber : http://dalang666.blogspot.com/2011/09/ki-anom-suroto.html

Share and Enjoy !

0Shares
0 0
KEJAWEN

KEJAWEN

Orek-orekane: Budi Hantara

Senajan mung timun wungkuk jaga imbuh aku tak melu urun rembug. Sadurunge orek-orekanku iki wis akeh wedharan becik kang magepokan karo kejawen. Kabeh nuduhake kawigaten marang budaya Jawa kang mrihatinake. Kenapa aku dhewe melu prihatin marang budaya Jawa kang adi luhur? Anggonku prihatin amarga maca kahanan kang nuduhake pratandha menawa budaya Jawa tansaya luntur.

Akeh wong Jawa kang ora mongkog karo budayane dhewe. Malah kepara rumangsa isin lan ninggalake budaya Jawa jalaran kepencut karo gebyare budaya manca. Amarga saking pintere wong manca, akeh wong Jawa kang padha kepencut lan sumujud ngagungake budaya manca. Sawise padha kepencut karo budaya manca, ora rumangsa yen alon-alon digiring kanthi cara alus supaya ninggalake budayane dhewe. Cara alus iku upamane lewat piwulang agama utawa kapitayan anyar. Lewat cara alus iku ana saperangan babagan kejawen kang dianggep ora jumbuh karo kapitayan anyar utawa piwulang agama. Mula wong Jawa kang wis kepencut kapitayan anyar banjur ninggalake budayane dhewe.

Akeh wong kang padha duwe penganggep yen kejawen iku mung gegayutan karo babagan klenik utawa ngelmu pedhukunan. Sabenere ora kaya mengkono. Kejawen yaiku samubarang kang ana gegayutane karo Wangsa Jawa, kelebu tradhisi, kabudayan, basa lan paramasastra lan kabeh ngelmu kapitayan.
Wong Jawa nduweni sebutan keturunan utawa kulawangsa (Wangsa). Sebutan wangsa amarga wong Jawa duwe basa, aksara(Carakan), kalender utawa penanggalan lan kapitayan. Ora kabeh wangsa duwe basa apamaneh aksara kaya wong Jawa. Mulane kang rumangsa dadi wong Jawa kudu mongkog karo budayane dhewe. Aja malah ninggalake budayane dhewe.

Penganggep utawa panemu kang kleru mungguhing tembung kejawen bisa ngrugekake tumrape wong Jawa. Yen padha duwe penganggep kejawen iku amung magepokan karo klenik, pedhukunan, takhayul, lan sapanunggalane bisa ndrawasi. Apamaneh yen penganggep kaya mengkono mau sengaja digawe kleru supaya wong Jawa ora nresnani budayane dhewe. Wong Jawa sengaja digawe keblinger kiblate. Wong Jawa digiring supaya luwih percaya marang kapitayan anyar lan budaya manca. Amarga pintere wong manca ngumbar janji manis, akeh kang padha sumujud melu ngegungke budaya manca. Ora ana lupute milih kapitayan, ananging ora ateges kudu ninggalake budayane dhewe.

Bung Karno “Sang Putra Fajar”, ngelingake marang para kawula Nuswantara/Indonesia. “Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab, kalau Kristen jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang Nusantara dengan adat – budaya yang kaya raya ini”. Pesene Bung Karno kang wigati marang para kawula Nuswantara kalebu awake dhewe supaya tetep dadi wong Nuswantara. Tetep dadi bangsa Indonesia kang nduweni rasa tresna marang budaya Nuswantara. Senajan agamane Hindu,Islam, Kristen tetepa dadi wong Nuswantara kang sugih adat lan budaya luhur.

Ayo padha dilestarekake budayane dhewe. Muga-muga kang lali marang budayane dhewe enggal padha eling. Aku tansah nyenyuwun marang Gusti. Para kawula ing Nuswantara tansah tentrem raharja binerkahan dening Gusti. Rahayu sagung dumadi.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0
JAKA BUDUG

JAKA BUDUG

Kerajaan Ringin Anom berada di wilayah Ngawi, Jawa Timur. Jejak sejarahnya ditemukan di Desa Ringin, Anom, Kecamatan Karangjati. Namun, seiring adanya pemekaran wilayah, desa tersebut sekarang masuk wilayah Kecamatan Pangkur. Menurut cerita berkembang di masyarakat, kerajaan Ringin Anom diperintah Raja Arya Seta. Beliau dikenal sebagai raja arif dan bijaksana.

Raja Arya Seta memiliki seorang putri cantik jelita bernama Putri Kemuning. Tubuhnya tinggi semampai, berkulit kuning langsat. Matanya berbinar indah bagai bintang kejora. Bibirnya yang merah delima selalu berhias senyum menawan. Putri Kemuning menjadi buah bibir karena kecantikannya.

Kecantikan Putri Kemuning membuat kerajaan Ringin Anom makin masyhur. Namun segala pujian dan kekaguman kepada Putri Kemuning mendadak berubah kesedihan. Putri Kemuning terserang penyakit aneh. Tubuh yang semula harum mewangi bagai bunga kemuning, mendadak mengeluarkan bau busuk. Putri Kemuning tak bisa menyembunyikan kesedihan.

Melihat keadaan putrinya, Prabu Arya Seta sangat bersedih. Berbagai upaya dilakukan untuk menyembuhkan penyakit aneh yang diderita Putri Kemuning. Para tabib istana dikumpulkan untuk mengobati. Namun tak ada yang berhasil. Prabu Arya Seta makin berduka.

Pada malam hening. Prabu Arya Seta melakukan meditasi di ruang pemujaan. Dalam keheningan semedi, beliau mendapat bisikan gaib.

“Dengarlah, wahai Prabu Arya Seta. Obat yang dapat menyembuhkan penyakit putrimu adalah daun Sirna Ganda. Daun itu hanya tumbuh di gua di kaki Gunung Arga Dumadi. Namun tak sembarang manusia mampu mengambil karena dijaga seekor naga sakti, la selalu menyemburkan api untuk membunuh siapa pun yang berani mengambil daun Sirna Ganda dari dalam gua itu.” Begitulah bisikan gaib yang diterima Prabu Arya Seta.

Prabu Arya Seta berpikir bagaimana caranya bisa mendapatkan daun Sirna Ganda demi kesembuhan putrinya. Beberapa prajurit pilihan dan pendekar sakti ditugaskan mengambil daun Sirna Ganda, tetapi tak ada yang berhasil.

Akhirnya Prabu Arya Seta mengadakan sayembara. Hari itu Prabu Arya Seta mengumpulkan seluruh rakyat Ringin Anom di alun alun untuk mengikuti sayembara. Setelah melihat rakyat memadati alun alun. Prabu Arya Seta berbicara dengan suara menggelegar penuh wibawa.

“Wahai rakyatku yang gagah berani. Kalian semua pasti sudah mengetahui penyakit putriku. Menurut bisikan gaib yang kuterima dalam semediku. putriku bisa disembuhkan dengan daun Sirna Ganda yang tumbuh di gua di kaki Gunung Arga Dumadi. Barang siapa yang dapat mempersembahkan daun sirna ganda untuk putriku. jika laki-laki kunikahkan dengan putriku dan jika perempuan menjadi putri angkatku.”

Mendengar sayembara itu, rakyat Ringin Anom menjadi gempar. Banyak rakyat mengikuti sayembara tersebut dengan harapan bisa menjadi menantu raja atau menjadi putri angkat raja. Namun sudah enam hari belum satu pun yang berhasil mengambil daun Sirna Ganda dari gua. Tak satu pun yang mampu menaklukkan naga sakti. Naga itu merupakan Suro Dumadi yang jahat. la mendapatkan kesaktian setelah mendapatkan pusaka Gada Naga Sakti Pusering Jagat. Prabu Arya Seta hampir putus asa.

Namun tiba-tiba datanglah seorang pemuda miskin yang tubuhnya menjijikkan karena mengidap penyakit budug (penyakit kulit semacam bisul). Karena seluruh tubuhnya dipenuhi penyakit budug, pemuda itu diberi nama Jaka Budug. Sesungguhnya pemuda itu terlahir dengan wajah tampan dan memiliki kesaktian seperti ayahnya. Nama sebenarnya adalah Jaka Lelana. la putra semata wayang pasangan Sirna Angga Bumi dan Anggi Banyu. Sirna Angga Bumi seorang pendekar sakti tetapi memilih hidup sederhana di Desa Melawi. Namun pada usia balita, Jaka Lelana mengalami penyakit budug. Menurut kepercayaan masyarakat. penyakit itu sebagai dampak dari kebiasaan ayahnya yang suka berkelana dan bersemadi untuk mendapatkan ilmu dan kesaktian tingkat tinggi.

Jaka Lelana atau yang dikenal dengan nama Jaka Budug mewarisi sifat rendah hati dan ahli ulah kanuragan seperti ayahnya. Namun karena mengidap penyakit budug sejak kecil, hidupnya terkucil. Setelah ayahnya terbunuh dalam pertarungan dengan Suro Dumadi di gua Arga Dumadi, Joko Budug tinggal di desa terpencil bersama ibunya. Tak seorang pun tahu bahwa sesungguhnya ayah Joko Budug meninggal dan jasadnya berubah menjadi tumbuhan bernama Sirna Ganda di gua Arga Dumadi. Sura Dumadi yang berubah menjadi seekor naga sakti selalu menjaganya. Naga itu selalu menyemburkan api untuk menyerang siapa pun yang mendekati gua Arga Dumadi. Mereka tidak mengetahui rahasia yang terjadi di gua Argo Dumadi. Masyarakat beranggapan ayah Joko Budug meninggal di hutan karena dimakan binatang buas.

Walaupun Joko Budug jelek dan menjijikkan, tetapi ia memiliki keahlian menggunakan keris sakti warisan almarhum ayahnya. Keris itu bernama Kiai Raga Sukma. Dengan keris sakti dan kemampuan bela diri, Jaka Budug memberanikan diri menghadap Prabu Arya Seta. Jaka Budug ingin mengikuti sayembara untuk menolong Putri Kemuning

“Mohon ampun, Sang Prabu. Izinkan hamba mengikuti sayembara untuk menolong Putri.” pinta Jaka Budug penuh hormat. Melihat keadaan Jaka Budug yang jelek dan tidak meyakinkan, Prabu Arya Seta terdiam sejenak.

“Siapa kau. Anak Muda?”

“Hamba Jaka Budug. Sang Prabu.”

“Apa yang kau andalkan untuk mengalahkan naga sakti itu?” tanya Prabu Arya Seta bernada pesimis.

“Semoga dengan keris pusaka ini, hamba bisa mengalahkan naga tersebut,” jawab Jaka Budug sembari menunjukkan sebilah keris pusaka kepada Prabu Arya Seta. Walaupun pada mulanya beliau meragukan kemampuan Jaka Budug, tetapi setelah melihat keris pusaka dan tekad besar, akhirnya sang Prabu

mengizinkan. “Baiklah. Jaka Budug. Kau kuizinkan mengikuti sayembara. Semoga kau berhasil.”

“Terima kasih. Sang Prabu.” Jaka Budug membungkuk hormat dan berangkat menuju gua di kaki Gunung Arga Dumadi.

Sesampai di mulut gua, Jaka Budug melangkah penuh kewaspadaan. Tiba-tiba naga sakti penjaga gua menyerangnya dengan semburan api. Jaka Budug menghindar dengan gesit. la melompat bagai anak panah melesat dari busur. Gerakannya luar biasa cepat. Menghadapi serangan bertubi-tubi. Jaka Budug kewalahan. Namun, ketika naga itu lengah Jaka Budug berhasil menghunjamkan keris saktinya ke perut naga. Darah segar memancar dari perut naga yang robek oleh sayatan keris sakti Jaka Budug. Pemuda itu terkejut ketika melihat tangannya yang terkena semburan darah naga mendadak sembuh dari penyakit budug. Kulitnya menjadi bersih dan halus.

Melihat keajaiban yang terjadi. Jaka Budug makin bersemangat membinasakan naga itu. Berkali-kali kerisnya merobek-robek tubuh naga hingga darahnya mengucur makin deras. Naga sakti akhirnya tewas. Kemudian Jaka Budug mengambil darah naga itu untuk dioleskan ke seluruh tubuh. Seketika Jaka Budug sembuh. Seluruh tubuhnya menjadi bersih dan halus. Jaka Budug berubah menjadi pemuda tampan.

Setelah memetik beberapa lembar daun Sirna Ganda dari dalam gua. Jaka Budug segera kembali ke istana. Prabu Arya Seta hampir tak percaya ketika melihat Jaka Budug berhasil membawa daun Sirna Ganda. Apalagi sekarang. Jaka Budug berubah menjadi pemuda tampan.Namun setelah Jaka Budug menceritakan peristiwa yang terjadi. Sang Prabu percaya dan kagum.

Sungguh ajaib. Setelah makan daun Sirna Ganda, Putri Kemuning sehat seketika. Tubuhnya yang molek memesona kini menebar aroma harum bagai bunga kemuning. Maka Prabu Arya Seta dengan rasa bangga dan bahagia segera menikahkan putrinya dengan Jaka Budug. Namun, tak lama setelah pernikahan putrinya, Prabu Arya Seta wafat. Jaka Budug dinobatkan menjadi raja Ringin Anom dan hidup bahagia bersama Putri Kemuning.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0
KEJAWEN

IMPENE WONG EDAN

Aku lungguh karo nyawang buku lungset kang gumlethak neng ndhuwur meja. Pitakonku durung entuk wangsulan. “Apa bener yen sastrawan iku wong ora waras kang dianggep duwe kaluwihan?” Buktine senajan gagasane ora bisa dinalar tetap dimaklumi. Contone kaya sedulurku Keliek S.W. alias Keliek Sugih Arto Warisan iki. Dheweke sastrawan kondhang. Senajan angen-angene nggladrah kaya wong edan, tetep disenengi wong akeh. Supaya luwih percaya coba gatekna ceritane.

“Kakehan Dhuwit Kudu Dibuang!”

Weladalah… iki mesthi wong ora waras pikirane. Saora-orane gunemane wong sing lagi mendem. Utawa wong edan sing kasep ngombe obat. Piye ora tak anggep wong edan, nalika wong liya lagi padha niba tangi golek dhuwit sak akeh-akehe malah omongane ora nggenah.

Ora bisa ditampa nalar kanggone wong lumrah. “Yen kakehan dhuwit kudu dibuang tinimbang ora genah arep dinggo apa”. Edan ta?

Aku ora perlu mumet mikir omongane wong edan Wis ben piye karepe. Sing penting aku ora ketularan edan Senajan kalawancine slenco ing panemu. Kadhang malah nggregetake. Yen diarani kaya wong edan malah cengengesan. Jarene aku luwih nemen. Omongane isih tak eling-eling.

“Kowe kuwi malah luwih nemen tinimbang aku.”

“Nemen piye?”

“Aku mung dianggep kaya wong edan. Nanging yen kowe genah, wong edan balungan kere.”

“Trondholo..”

“Ora sah nesu, wong nyatane ya tenan. Upama kowe waras mesthine ora gelem kekancan karo aku. merga aku kok anggep wong edan. Balungan kere wis genah, buktine tekan saiki isih tetep kere.”

“Wis menenga. Aja nrecet kaya bethet luwe.” Senajan tak getak, dheweke ora nesu malah ngguyu lakak-lakak.

Dina iku aku dolan neng omahe kanca SMP. Omahe neng desa Ploso wewengkon kabupaten Gunungkidul. Sugih Arto jenenge. Wonge prasaja. sregep megawe lan ora neka-neka. Omahe ya mung ketok biasa. Omah kampung modhel ndesa. Dudu omah gedhong magrong-magrong kaya omahe wong sugih. Alon-alon tak thothok lawange karo uluk salam. Sugih Arto apal swaraku, mulane banjur mangsuli.

“Ndang mlebu wae. Lawange ora tak kunci.” Ora mikir dawa, lawang banjur tak bukak. Lagi ngangkat sikil meh mlebu omah, mripatku nyawang kahanan kang gawe kaget. Mak jegagik! Aku mandheg sanalika, Aku semlengeren nyawang dhuwit tumpukan pating glethak neng kursi.

Sugih Arto lungguh neng kursi dawa karo mesem nyawang aku. Eseme tulus lan ora digawe-gawe, nanging dina iku rasane kaya ngece. Sing gawe aku rumangsa diece lan ora penak., merga nyawang dhuwit pating glethak neng sacedhake Sugih Arto. Gunggunge ora baen-baen. Udakara yen mung setengah milyard wae mesthi ana. Aku isih semlengeren, nalika dheweke mbagekke lan ngakon lungguh.

“Ndang lungguh., aja bingung kaya sapi ompong Pangucape sajak ngece. Pancen wiwit biyen, saben ketemu mesthi seneng gegojekan lan poyok-poyokan. Sugih Arto isih mesem nyawang aku sing salah tingkah. Supaya ora katon ingah-ingih aku melu mesem karo salaman banjur lungguh neng kursi kang kebak tumpukan dhuwit. Sawise bage binage lan ngabarke keslametan, aku kudu terus terang. Rasa ora penak sing tak simpen neng jroning dhadha wiwit mau kudu tak blakakake. Aku mencak-mencak merga rumangsa diece. Dheweke pamer dhuwit pirang-pirang atus juta merga ngerti yen tekan saiki uripku isih kesrakat. Tetep kere.

“Sepurane ya. Aku kudu omong jujur neng ngarepmu yen sejatine awakmu kurang ajar. Biadab…!” pangucapku tanpa tedheng aling-aling. “Ketoke awakmu kanca apik, nanging jebule atimu buthek kaya banyu peceren. Sesongaran pamer bandha.”

Sugih Arto nanggapi omonganku kanthi sareh. Ketok luwih wicaksana tinimbang wong waras. Dheweke ora kepancing nesu, nanging malah ngreripe supaya aku sabar sawetara. Merga ngrumangsani dadi tamu. mula aku kudu ngajeni sing duwe omah. Tumrape wong Jawa ora prayoga ninggalke suba sita. Bareng wis mendha rasa muntap jroning dhadha, dheweke njlentrehake apa kang dadi karepe. Sugih Arto pancen sengaja njupuk dhuwit tabungane sing ana bank gunggunge setengah milyard. Jebule pancen sengaja njupuk arep diwenehke aku. Krungu omongane sing dharik-dharik. aku ndhingkluk rumangsa isin nanging uga ora bisa nyimpen rasa bungah.

“Merga dhuwitku turah lan kowe niba tangi golek dhuwit ora nate cukup, karepku arep tak wenehke kowe. Aja kok anggep aku wong edan. Aku sadhar lan ikhlas, kok. Mbokmenawa anggonku adum rezeki marang sedulur sing mbutuhake pancen kasep. Nanging timbang ora babar pisan tak kira luwih becik.”

Aku mlongo setengah ora percaya. Sugih Arto sajak ora perduli kaya ngapa gorehing atiku. Rasane campur adhuk ora karuwan. Dheweke isih ngecipris neruske omongane. Aku tambah ora kepenak, bareng omongane semu nuturi. Senajan ora ditujokake marang aku, nanging aku bisa rumangsa.

“Manungsa minangka ciptaane Gusti Allah kang paling mulya lan luhur bebudene kudune ora mata dhuwiten. Direwangi niba tangi mung merga dhuwit. Malah direwangi nyolong barang. Ana maneh sing wis dibayar negara barang isih dadi koruptor. Tegel ngembat dhuwite rakyat. Kudune manungsa isin karo pitikku. Pitikku sing ana kandhang kae ora doyan dhuwit. Tahu tak coba tak sebari dhuwit atusan ewu. Karepku timbang repot ndadak tuku jagung. Jebule ora dipangan babar pisan. Dhuwit atusan ewu mung dieker-eker banjur diteleki. Aku dhewe isin karo pitik merga rumangsa serakah. Numpuk dhuwit neng bank ngnti pirang-pirang milyard nganti ora bisa ngentekke. Aku numpuk dhuwit nanging ora duwe tujuan arep tak nggo ngapa. Lha arep tak nggo ngapa wong kabeh kebutuhanku wis cukup. Anak-anakku kabeh wis tak modhali. Mulane aku mikir yen apike dhuwitku sebagian kudu tak buang, timbang turah ora ana gunane. Ndelalah kowe teka. Yen kowe butuh gawanen, dene yen wis ora butuh guwangen. Dadi aku ora ateges menehi awakmu wong niatku arep mbuang dhuwit, mulane ora sah matur nuwun karo aku. Ora sah rumangsa kabotan budi. Muga-muga dhuwit kuwi migunani kanggo uripmu.”

Senajan maune rumangsa isin, bareng tak pikir-pikir luwih becik dhuwit enggal cepet-cepet tak adhahi kresek. Mumpung Sugih Arto isih loma atine. Aku banjur pamit karo nggawa dhuwit setengah milyard. Ora lali aku ngaturke maturnuwun kang tanpa upama marang Sugih Arto. Angen-angenku mabur dhuwur. Dhuwit iki bisa tak nggo tuku mobil utawa seneng-seneng. Nanging aku ora entuk srakah. Isin karo pitik. Mulane saperangan arep tak dumke tangga teparoku.

Tekan omah aku pingin enggal-enggal andum dhuwit marang tangga teparoku ben ngrasakke melu seneng kaya sing tak rasakke. Nanging kaya ngapa kagetku. Dhuwitku ana ngendi? Getunku kepati-pati. Trondholo, jebule aku mung ngimpi. Dhasar wong edan
balungan kere.

Dening : Budi Hantara, Guru SMPN I Ngawi

Share and Enjoy !

0Shares
0 0
KEJAWEN

OLAH RASA

OLAH RASA
Orek-orekane: Budi Hantara

Aku meper kesenenganku nulis amarga sasmita kang takrasa ora nyenengake. Nanging aku tetep kudu nulis. Isih akeh gegambaran kang ngreridhu tumrap bebrayan agung ing Nuswantara. Mula kudu ngati-ati timbang sing taktulis kleru. Yen kleru ora bisa dibusak. Kurang bejane malah bisa dadi bebendhu.

Percaya kena ora percaya uga ora apa-apa. Nanging kanggone manungsa kang bisa maca sasmita, mesthine bisa nampa. Jalaran “Apa kang wis tinulis bakal tetep tinulis.” Mengkono kersane Gusti Kang Mahakuwasa. Dadi kedadeyan kang wis tinulis iku dudu karepku. Aku mung saderma ngelingake lumantar tulisan.

Muga-muga isih padha gelem maca lan sinau olah rasa. Emane ora saben manungsa tekun olah rasa supaya bisa maca lan ngudhari sasmita kanthi bener.

Wong Jawa sejatine nduweni ngelmu titen kang bisa diandhalake. Wiwit jaman nenek moyang, mobah musiking kahanan bisa dititeni. Mesthi ana sasmita sadurunge ana kedadeyan. Kabeh kedadeyan mesthi ana sebab musababe. Mula aja ninggalake ngelmu titen warisane leluhur.

Budaya Jawa nyimpen ngelmu lan kawicaksanan kang luhur. Yen saiki kahanan Nuswantara bubrah aja nyalahke kahanan. Aja nyalahke liyan. Coba takona marang awakmu dhewe, banjur jawaben kanthi jujur. Apa awake dhewe isih nguri-uri lan nindakake kawruh Jawa kang kebak kawicaksanan? Apa awake dhewe isih njunjung dhuwur budaya Jawa?
Ora usah kokwangsuli. Wangsulanmu cukup simpenen sajroning atimu. Yen ana lodhange penggalih bisa dinggo nglelimbang. Aja nganti awake dhewe getun mburi.

Saiki wis akeh wong Jawa kang kelangan Jawane. Ninggalake subasita lan kautamane budaya Jawa. Malah akeh kang luwih ngegungake budaya manca. Aja merga alasan maneka warna apa maneh kekudhung agama. Ora ana agama kang ajarane gawe bubrah. Agama ngajak nggayuh karahayon lahir batin. Kanggo mujudake gegayuhan kang luhur kudu dilakoni kanthi tumindak utama.

Dadi yen padha geger perkara agama ora bisa ditampa kanthi nalar kang waras. Awake dhewe aja melu-melu geger perkara agama utawa budaya. Kena duwe penganggep yen budaya manca iku becik, nanging ora becik kedadeyane lamun ninggalake budayane dhewe. Apa maneh malah ngasorake budayane dhewe.

Paribasane awake dhewe iki wit-witan, aja nganti dibedhol lan kelangan oyote. Yen awake dhewe rumangsa dadi wong Jawa, aja nganti ninggalake budaya Jawa. Saiki para kadang akeh kang sulaya jalaran ninggalake budaya Jawa. Yen tetep nggegem watake Wong Jawa kang Andhap Asor lan Tresna Marang Pepadha mesthi tentrem raharja.

Aja ngaku wong kang ngerti budaya utawa ahli agama lamun omongan lan tumindakmu durung bisa mujudake tresna marang pepadha. Aja ngasorake budaya kanthi kekudhung agama. Para Wali ing Nuswantara ora mulang para muride supaya ninggalake budaya. Malah paring tuladha kanthi migunakake kawicaksanan budaya Jawa kanggo nyebarake piwulang. Upamane lewat tembang lan wayang.

Apa isih kurang gegambaran lan kasunyatan kang bisa ngelingake awake dhewe marang budayane dhewe? Ayo padha dinalar lan dirasakke dhewe. Ora usah nuding golek salahe liyan. Luwih becik ngresiki atine dhewe. Muga-muga Nuswantara ayem tentrem. Para kadang padha rukun. Tresna tinresnan karo pepadha tanpa nyawang penganggone.

Salam Paseduluran selawase.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0