Select Page
PENGGESERAN BUDAYA NYADRAN UNTUK ADAPTASI DAN KEYAKINAN

PENGGESERAN BUDAYA NYADRAN UNTUK ADAPTASI DAN KEYAKINAN

GRUDO.NGAWIKAB.ID – Budaya merupakan salah satu aset yang harus dijaga untuk kelangsungan dan kelestarianya. Tidak hanya dengan di ingat saja, namun juga harus di lakukan demi pemahaman kaidah yang ada di dalamnya dan menyesuaikan dengan peradaban.

Namun perlu pemahaman bahwa setiap budaya memiliki arti maupun tujuan yang belum pasti positif. Perlu penelitian mendalam terhadap berapa besar dampak yang ditimbulkan. Sehingga perlu pemahaman dan kajian sebelum jauh melestarikan dan memasyarakatkan secara luas.

baca juga : TRADISI NYADRAN DESA GRUDO “ Wujud Syukur Dan Doa Keselamatan “

Banyak revisi terhadap berbagai budaya ketika berdampak negatif baik pada individu maupun masyarakat. Itu dilakukan bukan untuk mengurangi kwalitas maupun kaidah yang ada di dalamnya. Namun lebih ke arah manfaat dan adaptasi dengan era yang terus berkembang.

Seperti budaya Nyadran yang menjadi tradisi di sebagian besar desa di Jawa misalnya. Sudah mengalami revisi baik makna maupun tujuan yang terkandung di dalamnya.

Bila di era Animisme dan Dinamisme ratusan tahun silam, Nyadran atau dikenal dengan Bersih Desa dimaksudkan sebagai bentuk ritual sebagai pemberian sesaji pada penunggu kawasan tertentu. Hal itu sebagai persembahan atau permintaan terhadap tidak terjadinya sesuatu yang selama ini dianggap sebagai musibah.

Berita terkait : TRADISI NYADRAN

Era itu masih sangat kental dengan pemahaman dunia ghaib yang punya pengaruh besar terhadap kehidupan manusia. Masyarakat masih sepenuhnya percaya terhadap intervensi mahluk astral, sehingga setiap peristiwa selalu dikaitkan dengan keberadaanya

Seiring dengan berkembangnya waktu dan masuknya Islam, budaya Nyadran mengalami pergeseran maksud dan tujuaan. Bila dulu dimaksudkan untuk sarana permohonan doa terhadap penunggu ghoib wilayah, sekarang dimaksudkan sebagai permohonan doa kepada penguasa alam semesta dan sarana berbagi rezeki.

Dalam pelaksanaanya,  Nyadran  masih banyak yang mempertahankan pakem. Itu dimaksudkan sebagai pengingat sejarah suatu tempat ataupun petilasan dari tokoh pendahulu. salah satu yang di pertahankan adalah tempat ritual maupun selingan kesenian yang diselipkan dalam alur pelaksanaan . ( REPDO )

Share and Enjoy !

0Shares
0 0
BANASPATI, HANTU API YANG MELEGENDA

BANASPATI, HANTU API YANG MELEGENDA

GRUDO.NGAWIKAB.ID – Bagi masyarakat suku Jawa tentu tidak asing  dengan penghuni alamdengan sebutan Banaspati. Mahluk satu ini sangat familier di legenda dan kisah mistis dari masa ke masa. Banaspati berasal dari bangsa jin yang sering menampakan diri untuk mengganggu manusia maupun hanya sekedar untuk mendapat pengakuan atas keberadaannya.

Beberapa pakar supranatural memberikan pengakuan bahwa Banaspati juga bisa dipelihara untuk kepentingan tertentu. Diantaranya untuk kepentingan  santet atau untuk mengirim barang tertentu dengan tujuan menyakiti atau  mengganggu orang.

Dikutip dari SANDEKALA.COM, Istilah Banaspati merupakan Jin yang identik dengan wujud  api. Bentuknya bisa menyerupai bola api, juga bisa seperti manusia yang sedang terbakar dan juga ada yang mengatakan seperti tengkorak api seperti pada film Ghost Rider, atau ada juga api yang berbentuk angin yang berpusar.

Dari banyaknya penampakan, Hantu ini biasanya terbang rendah dari satu tempat ke  tempat lain dan suka terlihat melintas diatas rumah dengan berwujud seperti bola api. Konon dikabarkan juga, hantu ini senang menyerang manusia dan membakarnya. Hantu ini berasal dari kepercayaan masyarakat tanah jawa dan dikenal secara turun-temurun hingga sekarang.

Selain dilihat dari bentuk penampakannya ternyata ada 3 jenis hantu Banaspati yang sering di ceritakan orang dan menjadi misteri hingga saat ini, diantaranya :

  1. Banaspati Geni

Banaspati Geni (api) adalah Banaspati yang bersenyawa dengan udara. Maka, udara adalah sumber kekuatan utamanya. Apabila seseorang bertemu dengan Banaspati Geni dan takut, maka semakin besar pula kekuatannya. Hal itu disebabkan oleh pengaruh dari energi ketakutan seseorang yang dimanfaatkan dengan menagambil energi udara di sekitarnya untuk membuatnya menjadi api yang berkobar-kobar.

2. Banaspati Tanah Liat

Konon Banaspati jenis ini suka berdiam di hutan dan senang memangsa korbannya dengan cara menghisap darah sampai habis. Korban yang diincar adalah orang-orang yang tidak menapakkan tubuhnya dengan tanah atau tidak langsung bersentuhan dengan bumi karena memakai alas kaki. Bila menjumpai Banaspati jenis ini cara untuk menyelamatkan diri adalah dengan melepaskan alas kaki kemudian menapak di tanah dan berdiri diam.

3. Banaspati Air

Jenis Banaspati Air/ Banyu ini mengincar target pada seseorang yang berada di  air. Dengan cara seolah korban tenggelam di dalam air. Padahal sejatinya korban telah lebih dulu dihabisi darahnya sebelum akhirnya ditenggelamkan oleh Banaspati Banyu.

Untuk penangkal serangan Banaspati berdasarkan sesepuh jaman dahulu  bahwa Banasapati tidak bisa mendekati orang yang bersentuhan dengan tanah secara langsung, juga untuk orang yang hafal bacaan Ayat Kursi dan rajin beribadah. ( REPDO )

Share and Enjoy !

0Shares
0 0
APA ITU LEB, BYAH DAN ANKLER ?

APA ITU LEB, BYAH DAN ANKLER ?

GRUDO.NGAWIKAB.ID – Budaya merupakan aset yang tidak ternilai harganya. Dari pengertian budaya sendiri adalah kegiatan yang dilakukan secara kontinu ( Continew ) dengan maksud dan tujuan tertentu untuk hal positif. Sebagai aset yang tidak ternilai, budaya wajib untuk dijaga , dikembangkan dan dilestarikan.

Dalam dunia pertanian misalnya, banyak dikenal dengan istilah atau sebutan lokal yang masuk dalam budaya. Dari hal tersebut Editor GRUDO.NGAWIKAB.ID mencoba mengangkat istilah yang masih terjaga di masyarakat. Sebagai satu contoh adalah istilah yang ada di desa grudo, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi Jawa timur  dalam tahap penanaman Padi sebagai berikut:

LEB. Leb adalah istilah untuk mengairi lahan persawahan atau pertanian. Istilah ini biasa diucapkan dalam mengairi sawah baik sebelum maupuan setelah masa tanam. Dalam prosesnya, Leb bisa digunakan dalam mengairi lahan baik menggunakan irigasi buatan maupun alamiah yang bersumber dari sungai.

NGLUKU. Ngluku merupakan proses pengolahan tanah dengan alat Singkal ( Bajak ) yang bertujuan menggemburkan tanah dengan cara membalik muka tanah dengan tanah dibawahnya. Pada masa lampau sebelum ada Traktor, proses Ngluku masih dilakukan secara trdisional dengan menggunakan Luku yang ditarik Kerbau ataupun Sapi.

TAMPING. Pembersihan rumput pada Galengan ( Jalan kecil sebagai penahan air persawahan ) biasa disebut Tamping. Dalam prosesnya, Tamping menggunakan alat Pacul ( Cangkul ) untuk mengupas muka Galengan. Hal itu juga dimaksudkan agar akar dari rumput ikut terpangkas dan tidak tumbuh lagi.

MOPOK. Tahap berikutnya adalah Mopok. Dalamprosesnya Mopok adalah menutupi Galengan bekas proses Tamping dengan tanah yang diambil dari pinggir sawah agar akar rumput tidak lagi tumbuh. Selain tujuan tersebut, Mopok juga di maksudkan untuk  menutup lobang – lobang Galengan  yang disebabkan oleh Cuyu ( Kepiting Sawah )

NGGARU. Setelah lahan  Ngluku, makan lahan perlu diratakan. Meratakan tanah inilah yang disebut Nggaru. Sama dengan Ngluku, Sebelum adanya Traktor prosesnya menggunakan bantuan Kerbau ataupun Sapi. Selain untuk meratakan tanah, Nggaru juga dimaksudkan untuk menggemburkan tanah.

NYEBAR / NGURIT. Istilah ini dipakai dalam mempersiapkan bibit padi. Nyebar sendiri dalam bahasa indonesia bisa diartikan menebar benih padi. Ini biasa dilakukan sebelum proses penggarapan lahan persawahan.

ANGKLER. Angkler adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan kondisi sawah yang sudah siap untuk di tanami. Dalam istilah umum, Angkler adalah proses finishing pengolahan tanah. Dan proses inilah yang biasanya dijadikan patokan sebelum diputuskan untuk ditanami padi.

NDAUD. Ndaud adalah kegiatan mencabut bibit padi dari persemaian dengan usia antara 17-23 hari. Ndaud ini biasanya dikerjakan setelah lahan yang akan ditanami sudah melalui proses Angkler.

BANJAR. Banjar adalah istilah untuk menyiapkan Winih ( bibit padi ) yang sudah diikat ( Pocong ) dalam proses Ndaud. Dalam proses ini biasanya menggunakan Cocol ( Bambu yang ujungnya runcing ) untuk memikul dari Kedo’an ( Sawah yang dibatasi Galengan ) ke Kedo’an lain.

TEMPAH. Istilah Tempah dalam pengertian umum adalah membagi Pocongan dalam bentuk kecil secara terurai. Tujuan dari tempah adalah untuk mempermudah pekerjaan dalam penanaman padi. Dengan dibaginya Winih secara merata di area Kedo’an akan mempermudah penanam padi untuk mengambilnya.

TANDUR. Tandur dalam bahasa Jawa adalah kependekan dari ditoto mundur. Dalam bahasa Indonesia Tandur dikenal dengan istilah menanam padi.  Tandur biasanya dikerjakan oleh ibu-ibu dengan cara harian ( Dibayar per hari ) atau Basan ( Diborong ).

MATUN. Matun adalah kegiatan menyiangi rumput diselah – selah tanaman padi. Kegiatan ini biasanya dilakukan  beberapa minggu setelah padi di tanam. Untuk Matun biasanya dikerjakan secara manual dengan mencabut langsung dengan tangan walaupun sebagian menggunakan dengan alat. Namun Matun dengan tangan biasanya akan menghasilkan kwalitas yang lebih baik dibanding dengan bantuan alat

NGRABUK. Ngrabuk dalam istilah umum disebut memupuk. Ini dimaksudkan untuk memberi nutrisi yang dibutuhkan tanaman padi agar menghasilkan kwalitas baik. Dalam pelaksanaanya, Ngrabuk biasamenggunakan pupuk kimia. Namun untuk keperluan tertentu, petani juga menggunakan pupuk organik.

MRAPU. Mrapu adalah istilah yang menggambarkan padi sedang berbuah. Biasanya usia padi diatas dua bulan.

BYAH. Istilah yang satu ini bisa diartikan seluruh padi sudah mulai berbuah. Dan kata Byah ini mewakili  keseluruhan dari area pesawahan yang dimiliki seseorang sudah seluruhnya bebuah.

TUNGGU MANUK. Tunggu Manuk adalah istilah yang dipakai  pada saat menjaga tanaman padi dari serangan burung. Dalam prakteknya, petani sering menggunakan sarana bantu. Sarana bantu yang dipakaipun beraneka ragam. Dari membuat orang – orangan sawah, umbul – umbul dari plastik hingga tutup kaleng besar untuk membuan bunyi – bunyian dengan cara ditabuh.

DHEREP. Dherep adalah kegiatan memanen padi. Pada masa lampau,  Dherep menggunakan alat yang bernama ani-ani untuk padi jenis khusus seperti Rojo Lele. Proses Dherep mengalami banyak kemajuan dengan adanya alih tehnologi. Namun sebagian masih menggunakan  Arit ( sabit ) sebagai pemotong padi. ( REPDO )

Share and Enjoy !

0Shares
0 0
KIDUNG WAHYU KOLOSEBO, FILOSOFI SANG SUNAN FENOMENAL

KIDUNG WAHYU KOLOSEBO, FILOSOFI SANG SUNAN FENOMENAL

Sunan kalijogo & Noyo Genggong

GRUDO.NGAWIKAB.ID – Dalam sejarah budaya Jawa banyak dikenal susunan kata – kata indah lewat Tembang, Kidung, Bowo, Mantra maupun Kitab.  Dari semua susunan kata – kata indah tersebut  memiliki tujuan yang berbeda satu dengan yang lain. Dari tujuan untuk doa, cerita, Petuah hidup maupun sekedar penghibur pada suasana tertenentu.

Kisah  perjalanan masyarakat jawa yang dekat dengan alam mewariskan budaya adi luhung. Dari sebagian besar warisan budaya  tersebut dilahirkan tokoh – tokoh dilingkungan Keraton, Kerajaan, Padepokan  maupun Pesantren lewat para Wali. Tokoh – tokoh besar tersebut di antaranya Sunan Kalijogo, Mpu Tantular, Joyo Boyo hingga Ronggo Warsito.

Salah satu warisan budaya  yang populer pada masanya adalah Kidung. Pada era Walisongo Kidung benar-benar dilestarikan sebagai seni yang mampu menjadi acuan hidup. Bahkan Kidung dijadikan sarana para wali sebagai sarana untuk syiar Agama Islam. Sebagian besar Kidung berisi kata – kata yang mengarah ke petuah dalam perilaku. Dari petuah yang ada di dalamnya, si pengarang mengharap masyarakat tahu arah dari ajaran – ajaran Islam.

Ilustrasi walisongo

Seperti Kidung Wahyu Kolosebo yang sangat populer pada era perjuangan Sunan Kalijogo. Susunan kata – kata didalamnya begitu runtut dengan bahasa tingkat tinggi. Arahan pengetahuan dan anjuran kebaikan dalama syairnya sulit untuk ditemukan pada Kidung lain. Dikisahkan, dari syair kidung yang di lantunkan bisa membuat suasana menjadi hening. Keheningan tidak hanya di alam nyata, bahkan syairnya konon mampu menembus alam gaib hingga menghipnotis makluk astral.

Rangkaian isi Kidung Wahyu Kolosebo sendiri merupakan sebuah gambaran untuk pegangan hidup dari penciptanya yaitu Sunan Kalijogo. Gambaran cara menghadapi tantangan  hidup, Menjalankan perintah Tuhan Yang Maha Kuasa, hingga cara mencapai kesempurnaan hidup sangat jelas tertuang dalam isi syair.

Kepopuleran Kidung Wahyu Kolosebo membuat banyak seniman menggubah menjadi beberapa jenis lagu. Dari lagu jenis Keroncong, Pop, Dangdut bahkan sampai versi Campur Sari. Gubahan tersebut cukup mendapat respon positif dari masyarakat dengan banyaknya like ataupun sunscribe bahkan juga di download. Itu terlihat dari jumlah pengunjung pada setiap judul lagu Kidung Wahyu Kolo Sebo yang di unggah lewat Youtube.

Sedang isi dari Kidung Wahyu Kolosebo sebagai berikut :

Rumekso ingsun laku nisto ngoyo woro. Kelawan mekak howo, howo kang dur angkoro. Senadyan setan gentayangan, tansah gawe rubeda. Hinggo pupusing jaman.

Hameteg ingsun nyirep geni wiso murko. Maper hardening ponco, saben ulesing netro. Linambaran sih kawelasan, ingkang paring kamulyan. Sang Hyang Jati Pengeran.

Jiwanggo kalbu, samudro pepuntoning laku. Tumuju dateng Gusti, Dzat Kang Amurbo Dumadi. Manunggaling kawulo gusti. krenteg ati bakal dumadi. Mukti ingsun, tanpo piranti.

Sumebyar ing sukmo madu sarining perwito. Maneko warno prodo, mbangun projo sampurno. Sengkolo tido mukso, kolobendu nyoto sirno. Tyasing roso mardiko …

Mugiyo den sedyo pusoko Kalimosodo. Yekti dadi mustiko, sajeroning jiwo rogo. Bejo mulyo waskito, digdoyo bowo leksono. Byar manjing sigro-sigro.

Ampuh sepuh wutuh, tan keno iso paneluh. Gagah bungah sumringah, ndadar ing wayah – wayah. Satriyo toto sembodo, Wirotomo katon sewu kartiko. Kataman wahyu … Kolosebo

Memuji ingsun kanthi suwito linuhung. Segoro gando arum, suhrep dupo kumelun.
Tinulah niat ingsun, hangidung sabdo kang luhur. Titahing Sang Hyang Agung.

Rembesing tresno, tondho luhing netro roso. Roso rasaning ati, kadyo tirto kang suci. Kawistoro jopo montro, kondang dadi pepadang. Palilahing Sang Hyang Wenang.

Nowo dewo jawoto, tali santiko bawono. Prasido sidhikoro, ing sasono asmoroloyo. Sri Narendro Kolosebo, winisudo ing gegono. Datan gingsir … sewu warso. ( REPDO )



Share and Enjoy !

0Shares
0 0
TRIONO ST “ BUDAYA ADALAH ASET GOIB “

TRIONO ST “ BUDAYA ADALAH ASET GOIB “

Nyadran

GRUDO.NGAWIKAB.ID – Setiap daerah tentu memiliki budaya baik berupa warisan dari pendahulu maupun dari ide – ide kreatif yang muncul karena kondisional dengan nilai positif maupun negatif bila di lihat dari berbagai sudut pandang. Namun hal itu tetap saja menjadi kebiasan yang terus dilakukan secara berulang –ulang.

Pun demikian halnya dengan Desa Grudo yang memiliki budaya yang sangat beragam. Dari hal itu jelas bahwa kesepahaman atas multi opini dalam masyarakat tersatukan dalam budaya. Dari hal itu timbul rasa kedekatan, kebersamaan serta persatuan bagi yang terlibat didalamnya.

Gotong Royong

Budaya yang ada di Desa grudo sendiri di bagi menjadi budaya tasyakuran, budaya adat, dan budaya yang sifatnya insidental. “ Selama budaya itu positif dilihat dari sisi sosial, agama, konsitusi dan situasi, tentu akan kita jaga dan lestarikan. Dan tentu budaya adalah aset yang perlu di fahami bahwa di dibaliknya banyak potensi yang bisa di gali ”. Terang Triono ST Kades Grudo.

Rewang

“ Dan tentu Desa grudo memiliki beberapa budaya yang selalu dan terus kita jaga kelestarianya. Dan saat ini pemrintah Desa Grudo memprioritaskan pada budaya sosial seperti Rewang, Gotong Royong, maupun Siskamling. Hal itu lebih karena faktor kuatnya pengaruh modernisasi yang bisa mengikis kesadaran masyarakat”. Lanjut pria yang akrab di sapa Herkules itu.

Sinoman

“ Terkait aset budaya saya mengistilahkan sebagai aset goib. Jadi yang dimaksud budaya itu tidak terlihat dikarenakan hanya sebuah rangkaian peristiwa. Dan itu baru kelihatan bila rangkaian dari sekian peristiwa yang terilustrasi dalam sebuah proses  yang diperankan oleh masyarakat pada waktutertentu.  Dan itu dilakukan  secara berulang ulang ”. Pungkasnya ( REPDO )

Share and Enjoy !

0Shares
0 0
TRADISI NYADRAN

TRADISI NYADRAN

Sinden

Nyadran adalah tradisi syukuran yang hampir menjadi bagian dari  kegiatan setiap desa yang ada di Kabupaten Ngawi. Tidak hanya syarat dengan budaya leluhur saja, namun nuansa yang kental dengan seni masih selalu menghiasai  setiap kegiatan yang menjadi agenda tahunan itu. Dari perpaduan doa minta keselamatan sampai wujud syukur atas limpahan nikmat yang telah di berikan tuhan Yang Maha Kuasa selalu tersaji didalamnya. Bahkan beberapa tahun terakhir ada kolaborasi yang menyajikan kegiatan Nyadran dengan seni modern demi menarik minat dan adaptasi dengan peradapan.

Tasyakuran

Seperti  halnya yang dilakukan Pemerintah Desa Grudo, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi. Nyadran menjadi agenda tahunan yang selalu memberi nuansa pembeda diantara program pemerintah Desa Grudo lainnya. Selain sebagai aset yang harus di jaga dan di lestarikan, budaya Nyadran selalu mendapat tempat khusus di sebagian penikmat seni dari warisan budaya Jawa. Tentu itu semua tidak lepas dari kegiatan yang selalu menyelipkan gamelan Jawa beserta penari sinden dengan istilah Tayuban.

Parngadi

“ Nyadran itu sudah menjadi tradisi dari nenek moyang. Selain wujud syukur atas limpahan rejeki yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa, juga sebagai sarana doa minta keselamatan. Dan satu sisi juga selalu menampilkan budaya  Musik Gamelan sebagai sarana mempertahankan sekaligus melestarikan warisan pendahulu. Sebagai generasi penikmat seni dan budaya kita akan terus mengagedakan Budaya Nyadran  di Dusun Mojorejo”. Terang Parngadi Kasun Mojorejo.

Sebagai desa yang peduli dengan warisan budaya, Grudo selalu aktif dalam melakukan kegiatan budaya nyadran. Dari beberapa dusun yang selalu konsisten menghadakan Nyadran antara lain Dusun Cupo, Dusun Grudo, Dusun Mojorejo, Dusun Brangol Dan Dusun Pojok yang kesemuanya di pusatkan di sendang. Hal itu bukan tanpa maksud, Sendang adalah tempat air atau sumber dari kehidupan yang selalu menjadi tumpuan hidup warga di masa yang lalu.

Triono ST

“ Terlepas seperti apa wujud dari budaya Nyadran, Kita memaknai dari sisi positifnya. Dalam acara Nyadran jelas ada doa yang intinya bersyukur atas limpahan risqi dan mohon perlindungan atas keselamatan Kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan mendasar pada itu tentu kegiatan Nyadran  harus di budayakan. Dan bila perlu di selingi dengan tausiah agar generasi yang akan datang tidak memaknai Nyadran sebagai budaya negatif ”. Terang Tiono, ST. Kades Desa Grudo  ( REPDO )

Share and Enjoy !

0Shares
0 0